|
Minuman berenergi kian populer. Bahkan, tak jarang orang mengonsumsi minuman itu seperti meminum minuman bersoda. Makan pagi minum, makan siang minum, makan malam minum. Bahkan, setelah makan snack pun, mereka minum minuman energy drink. Padahal, yang begitu amat tidak dianjurkan. Menurut sebuah study yang dimuat jurnal Drug and Alcohol Dependance, minuman berenergy bisa menyebabkan intoksikasi (keracunan) kafein.
Kandungan kafein pada minuman berenergy bervariasi hingga rentang 10 kali lipat. Beberapa energy drink mengandung kafein setara dengan 14 kaleng Coca-Cola. Problemnya, kandungan kafein ini sering tidak dicantumkan dalam label. Produsen minuman berenergy juga jarang yang mencantumkan peringatan tentang risiko intoksikasi kafein," kata Roland Griffiths dari Johns Hopkins Medical Institutions. Umumnya, 12 ons minuman cola mengandung 35 mg kafein, sedangkan 6 ons kopi mengandung 80-150 mg kafein. FDA (POM-nya Amrik) membatasi kandungan kafein pada produk makanan hingga 71 mg untuk kemasan 12 ons. Sebab minuman berenergy biasanya dimasukkan kategori suplemen, bukan makanan. Karena itu, produsen minuman tersebut bisa menjejalkan kafein lebih tinggi, "Repotnya, meski produk mengandung kafein yang dijual bebas mestinya diberi label peringatan, produk minuman berenergy biasanya tidak," kata Chad Reissig, peneliti lain. Intoksikasi kafein ditandai gejala nervous, cemas, sulit tidur, gangguan saluran pencernaan, gemetar, dan jantung berdetak cepat. Dalam kasus tertentu, meski jarang, keracunan kafein bisa juga menyebabkan kematian (PJ/war/soe)
|